GEREJA:KOMUNITAS YANG MENDIDIK (Suatu Pandangan Penerapan Pendidikan dalam Gereja)

Pendahuluan

Robert W. Pazmino dalam bukunya yang berjudul “Principles and Practices of Christian Education,” (hal. 46) menyebutkan lima tugas gereja antara lain; Koinonia (persekutuan), Kerygma (pemberitaan), Profeteia (kenabian), Diakonia (pelayanan), dan Leitourgia (beribadah). Menyikapi hal ini, pertanyaannya adalah bagaimana tugas gereja mendidik Jemaat agar menghayati lima tugas tersebut? Dan, bagaimana pula caranya agar Jemaat bisa belajar dan diajar tentang tugas gereja? Kulminasinya, gereja berkembang kuat, menjadi tempat yang aman untuk bertumbuh dan menjadi komunitas yang mendidik bagi anggota Jemaatnya.

Dasar Pendidikan dalam Gereja

Matius 28: 16-20 menjadi fondasi dalam misi tetapi juga dalam pendidikan. Nats ini menjadi pijakan bagi gereja dalam memberitakan Injil yakni kabar kesukaan. Menarik untuk diperhatikan konteks pemberian “Amanat Agung,” yakni dalam ayat 17. Dikatakan bahwa penerima “Amanat Agung,” awalnya adalah orang-orang yang ragu-ragu “tetapi beberapa orang ragu-ragu.” Ada perbedaan terjemahan antara Bahasa Indonesia (TB) dengan Bahasa Yunani. Dalam Bahasa Indonesia dikatakan “beberapa orang ragu-ragu,” sedangkan dalam bahasa Yunani adalah “oide hedistasan” dan terjemahannya “tetapi mereka ragu-ragu.” Konteks disini yang ragu-ragu adalah “mereka” yakni kesebelas murid (ay. 16). Jadi, bukan beberapa diantara para murid melainkan mereka semua, yakni kesebelas murid. Pertanyaannya, mengapa mereka ragu-ragu? dan mengapa Tuhan justru memberikan “Amanat Agung” saat kondisi para murid ragu-ragu?

Pertanyaan ini merefleksikan kepada kita bahwa sesungguhnya banyak penerima “Amanat Agung” bahkan Pembawa “Amanat Agung” mengalami kondisi ini. Dalam ayat 17, ditegaskan bahwa sebenarnya para murid sedang “menyembah” Yesus. Persoalannya, bagaimana bisa pada saat menyembah Yesus, disisi lain para murid juga ragu-ragu? Banyak Hamba-hamba Tuhan, Pemimpin-pemimpin Kristen, Misionaris bahkan Gereja-gereja penerima “Amanat Agung” mengalami keragu-raguan. Menyampaikan Injil tetapi dalam kondisi ragu-ragu. Namun menarik, apapun yang menjadi keadaan para murid yang menerima “Amanat Agung,” tetapi “Amanat Agung” tetap dijalankan. Berangkat dari orang yang ragu-ragu, justru perkembangan Injil sungguh menakjubkan.

Beranjak dari pemikiran diatas, bagaimana gereja menyikapi hal ini? bagaimana gereja berperan menyingkirkan “ragu-ragu” dalam menjalankan “Amanat Agung”? bagaimana gereja bertindak aktif-berkelanjutan terhadap mereka yang didalam gereja yang ada dalam “ragu-ragu”? Visi Tuhan bagi gereja-Nya adalah “jadikanlah semua bangsa murid-Ku,” dan caranya adalah pergilah, baptislah dan ajarlah (ay. 19-20). Kata “menjadikan murid” berasal dari kata ”mateteusate” (imperaktif, aoris) yang artinya muridkanlah. Hal ini berarti tindakan memuridkan adalah perintah (imperaktif) dan terjadi sekali (aoris). Mengapa tindakan memuridkan sekali dan bukannya terus-menerus?

Dalam hal ini, kita adalah instrument/alat untuk memperkenalkan orang kepada Yesus. Dan ketika memperkenalkan orang kepada Yesus, itu sekali terjadi dan tindakan pemuridan bisa dilakukan siapa saja, karena kita hanya alat dan “Guru Agung” adalah Yesus yang akan memuridkan orang itu. Ini yang sering salah kaprah dalam gereja “menjadikan orang lain” seolah-olah murid kita yang bisa diperintah, bisa diatur, padahal tujuan dari pemuridan adalah menjadikan orang itu murid Yesus dan bukan murid kita. Jangan merasa gagal bahkan putus asa ketika Anda gagal memuridkan orang. Anda belum berhasil sekarang tetapi tidak untuk kedepan. Bisa saja pemuridan dilakukan orang lain. Tugas kita adalah memperkenalkan dan menjadikan orang lain murid Yesus, karena kita juga sama-sama murid.

Menerapkan Pendidikan dalam Gereja

Bagaimana gereja mampu menerapkan pendidikan bagi warga Jemaatnya melalui “Amanat Agung”? Dalam hal “Amanat Agung,” gereja sesungguhnya dapat mengambil peran dalam pemuridan yang berkesinambungan dan unsur pendidikan dijalankan. Agar orang menjadi murid unsur pendidikan harus dijalankan. Tugas pendidikan paling tidak mencakup tiga aspek; pertama, to inform; kedua, to confort; ketiga, to transform. Ada banyak informasi-informasi yang dapat dijadikan sumber pendidikan bagi warga jemaat. Baiknya, informasi tersebut bersifat mendidik dan mengubah hidup. Bahkan dalam setiap khotbah yang disampaikan seharusnya bisa dijadikan untuk mendidik umat.

Pertanyaannya, bagaimana khotbah bisa mendidik umat? Khotbah seharusnya ada unsur yang dapat mendidik Jemaat, bagaimana Jemaat belajar sesuatu dari setiap firman yang disampaikan. Banyak jemaat yang datang ke geraja/masuk gereja memiliki harapan-harapan besar akan hidupnya. Harapan pribadi akan pemulihan, pertumbuhan, dll. Tepatnya, masuk gereja ingin dipulihkan dan mendapatkan jalan keluar dari setiap masalah tetapi justru didalam gereja ketemu dengan banyak orang yang belum dipulihkan dan bermasalah dalam hidupnya. Pertanyaannya, masuk ke gereja ketemu masalah, keluar gereja apa yang dipelajari oleh jemaat? Tegasnya, ketika diluar gereja apa yang dipelajari Jemaat (diluar khotbah apa yang dipelajari)?

Dalam penerapan pendidikan dalam gereja, seharusnya gereja mampu memberikan kurikulum-kurikulum pendidikan dalam setiap kegiatan, khususnya dalam khotbah. Kurikulum tersebut dikembangkan dari mana? Kurikulum bisa dikembangkan dari vision, mision dan core values yang diyakini gereja. Sementara gereja menyiapkan kurikulum pengajaran khotbah yang mendidik, lebih dari pada itu gereja menyiapkan Jemaat agar siap diajar. Gereja harus menyiapkan Kurikulum yang bersifat holistic dan menyentuh semua tingkat Jemaat. Ketika ini berjalan maka Jemaat menjadi murid yang taat, mereka mampu memimpin dan perkembangan gereja pun terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: